tidakadasubsidibbm

Hidup dikampung sungguh membosankan. Itu mungkin dilema hati yang mengantar sebagian penduduk pedesaan untuk bisa pergi ke kota. Jakarta dan Bandung adalah dua kota tujuan utama bagi para pengadu nasib yang berasal dari daratan Jawa khususnya. Mereka tidak perduli punya skill atau tidak yang penting berangkat sampai tujuan. Kerja tidak kerja itu urusan nanti. Satu, ada tempat untuk numpang dulu. Biasanya teman atau mungkin saudaranya. Gambaran ini sudah jelas, betapa anggapan hidup dirantau untuk mencari pekerjaan itu mudah. Inilah point pertama bagaimana kuatnya keinginan untuk bisa merubah nasib. Dikampung mencari duit susah, itulah yang sering kita dengar.
Sebut saja si Tampan. Pria ini adalah salah satu contoh bagaimana keinginannya untuk pergi merantau. Sebelum berangkat, surat-surat yang diperlukan sebagai sarana kelancaran itu harus disiapkan. Dari surat ijin orang tua, surat kelakuan baik, foto copy ijazah, kartu sehat dan masih banyak. Belum memperpanjang KTP yang sudah habis masanya. Dengan mengantongi uang seratus ribu pecahan (ada recehan, ribuan dan puluhan) tekad si Tampan ingin merantau bulat sekali. Apalagi faktor ekonomi yang mengantarkan niatnya untuk ke Jakarta.
Pagi itu sekitar jam sembilan ia pergi ke kantor Desa. Masih terlihat sepi. Hanya ada satu dua orang yang sedang berada dibalik meja. Setelah mengutarakan maksudnya, pegawai desa itu menuliskan sesuatu di form yang sudah ada, mungkin surat ijin dari orang tua, ditambah lagi form memperpanjang KTP. Setelah semua dianggap beres dengan mengucapkan terima kasih si Tampan melenggang pulang. “ tampan, itu, kotak kasnya di isi dulu”pinta salah satu pegawai desa. Agak sedikit gugup, si Tampan merogoh sakunya dan melipat lipat uangnya untuk dimasukin ke kotak kas Desa. Plung, sepuluh ribu masuk kedalam kas Desa. Surat ijin orang tua sudah beres. Tinggal membuat surat kelakuan baik. Dan surat itu bisa didapatkan dikantor polisi. Saat itu juga si tampan mengayuh sepedanya ke kantor polisi. Sama, setelah mengutarakan maksudnya, petugas polisi mengambil selembar kertas, masukan ke mesin tik, dan mulai mengetik biodata si tampan. Ting tong..selesai. Sepuluh ribu. Tumben petugas ini memberikan harga sepuluh ribu. Dengan sedikit gugup lagi, si Tampan merogoh sakunya dan mengeluarkan uang kertasan sepuluh ribu. “buat ganti kertas dan pita”kata petugas itu. Sesudah begitu, si tampan harus minta cap ke bapak Camat. Dimana?ya di Kecamatan. Plok..plok..selesai. “eh mas, isi kas dulu”kata petugas. Berapa pak”?tanya Tampan. Dan pegawai kecamatan bilang seikhlasnya. Plung. Lima ribuan masuk kotak kas kecamatan. Untuk biaya memperpanjang KTP lima ribu rupiah. Masih ada satu yang belum. Surat Kesehatan, dan ini meski didapati di Puskesmas. Kebetulan letak Puskesmas dekat dengan Kecamatan. Periksa kesehatan intinya habis dua puluh ribu. Waduh, dengan wajah yang terlihat sudah capai, Tampan bergegas pulang. Diberanda rumah ia mencoba menghitung uang pengeluaran sebelum ia bekerja di tanah Rantau. Tung hitung hitung habisnya lima puluh ribu rupiah. Tentu jumlah itu tidak sedikit bagi yang ekonominya pas-pasan. Ya Alloh….kuatkan hambamu ini yang selalu lemah.
Saudaraku, itu potret nyata bagaimana birokrasi dipemerintahan kita. Semua diawali dengan pelayanan, tapi diakhiri dengan uang. Dan alasannya untuk kas desa dan lain sebagainya. Apa memang begitu?apa desa tidak mendapatkan dana operasional dari Kabupaten?apa kecamatan tidak punya dana operasional untuk melayani warganya?. Mereka-mereka dipilih untuk jadi pelayan, bukan jadi penjepit dada yang memerlukan bantuan kepemerintahan. Indonesia adalah negara urutan pertama yang pengikut agama Islamnya terbesar. Tapi cara-caranya masih perlu diperbaiki. Bisa dibayangkan andaikan satu hari ada 100 orang yang minta bantuan mengurus surat dan lain lain, berapa uang yang seharusnya tidak ada masuk kekotak mereka?betapa kasihan apa bila uang itu dibawa pulang dan dikasihkan ke anak atau istri/suami mereka?
Dan jangan pernah kita heran kalau orang pinter yang kehilangan kambing akan melaporkan ke kepolisian. Mereka sadar, polisi kerumahnya pakai motor dan perlu bensin, mengendus keberadaan malingnya juga capai dan butuh makan dan minum. Dan belum tentu ketemu maling atau kambingnya. Bisa bisa hanya kehilangan kambing tapi akhirnya seperti kehilangan sapi.
Saudaraku itulah potret yang harus kita benahi, mudah-mudahan untuk kedepannya isi kas untuk beli kertas tidak ada lagi, tidak ada pungut-pungutan lagi, murni melayani. Dan untuk semua pejabat atau pemimpin masyarakat, jadilah benar-benar seorang pelayan masyarakat, bukan yang minta dilayani. Seperti Khalifah Umar bin Khatab, beliau memanggul karung sendiri untuk melayani penduduknya yang kelaparan. Masa malah sebaliknya ingin mengambil harta dari yang sudah kelaparan. Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa dan kesalahan kita semua, amin

5 Tanggapan to “Potret”

  1. Kariyah Says:

    Charity begin from home. WE are born with soft heart n naged. that make us learn from very basic. We will learn how to be better. Our country is not so slow. Tere still have many more country’s that more slow than us. We can success with learn from what we ever done. wheather that is good or bad.
    To be strong first we have to be unity. Help each an others. be positive for thus failurs,try to help them to back to his sance. Never give up is the pillar of success.

  2. Kariyah Says:

    Sorry my english was so poor ,but I wanna to let you know that we have improof alot. 8years ego I was kampung girl,who si never know what kind of SMP or SMA. I just pure kampung girl,but now alkhamdulillah I can speak little english as you know for today. My family very poor can’t give me enough education. I seek my future in Singapore. Here I can learn alot of things. I can earn money for my son study, I can learn how to speak english for free, i can learn how to use computer. I can learn how to see world. So when I am going back I hope I can pass to Other what I learn before.
    I wish to do social work for my Village. I hope the people’s there suport me.

  3. chool_lee Says:

    mbekayu kariy….rika ngomong apa yu…. inyong tambah bingung lah… aja dipikir nemen2 lah..

    Ya.. nek ana rejeki luwih.. dikirimna men kampung… dadi men melu ngrasakna kemakmurane slirane ..tuli kaya kuwe mbok… Mas madureso….
    Jawaban Madureso:Bener banget mas nur…ana lewihan ya dibagi…

  4. Kariyah Says:

    Ha ha ha mas apa mbak chool lee as mo panjenengan meh china… he he he alaaaa aku mung pengin curhat,,,, mranto nang SIN kesepian,,, Alkhamdulillah Desaku wis maju aku bangga karo desaku, nek aku bali pengin bagi2 pengalamanku karo tetangga… ya masalah bagi rejeki insya Allah,,,, lewih lan orane ya niat SODAQOH all what I haved now is from Allah SWT and that I will share with whom need it as Allah SWT SAID it IN HOLY ALQUR’AN… Amiennnn

  5. ragil Says:

    Chool-lee
    Jane peane wong ngendi mas? asli Madureso po?
    yen arep chit chat karo aku kei tek wenei alamatkun kariyahds@yahoo.com.sg
    lam kenal gled to know you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s