Artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”

KATA ORANG…..

Kita ….Lebih gembira menyambut 1 Januari dari pada 1 Muharram

Kita …Lebih tahu apa itu 14 Februari dari pada 12 Rabiulawal

Kita …Lebih membesarkan hari Sabtu/Ahad dari pada hari Jumaat

Kita …Lebih khusyuk mendengar lagu dari pada mendengar Azan

Kita …Lebih tahu tentang artis pujaan kita dari pada nama nabi-nabi Allah

Kita …Lebih suka menyanyi dari pada berwirid, bertahmid

Kita …Lebih suka membaca majalah atau koran ketimbang tilawah Alqur’an

Kita …Lebih suka ke konsert darr pada ceramah agama

KEBERHASILAN BISA BERAWAL DARI KENEKATAN

16-november-019.jpgSeperti biasa karena kesepian ditempat kerja, seminggu sekali aku sempatkan untuk bisa mengunjungi teman ataupun saudara dibilangan Kramat jati ataupun Pondok Gede. Untukmenghindari macet di sore hari, perjalanan selepas waktu Isya itu lebih mengasikan. Apalagi aku harus naik kendaraan umum dari Mampang. Malam itu saya sempatkan jalan kaki dipinggiran pasar Kramat Jati. Mata ini tertuju pada sosok bapak-bapak yang cacat fisiknya. Dia berjalan dengan menggunakan kaki dan pantatnya menyusuri pinggiran aspal yang keras. Bentuk tubuhnya lengkap, tapi cacat kaki yang kecil tidak seimbang dengan badannyalah yang membuat bapak itu tidak bisa berjalan Normal. Ada iba dalam hatiku. Aku dekatin orang tua itu sembari menyodorkan uang lembaran. Ucapan terima kasih dan senyum bahagia langsung tersungging dari bibirnya. Terlihat ada keletihan disana. Mudah-mudahan dengan pemberianku tadi sedikit bisa membantu ketegarannya.
Malam itupun Alloh masih menyempatkan aku untuk bisa bertemu bapak tua itu lagi. Saya rasa ini bukan suatu kebetulan saya bisa melihat perjuangannya mencari rizki menyusuri aspal yang keras dan berdebu. Kali ini mata saya tertuju pada sosok yang sedang istrirahat ditepi jalan. Hati ini tergerak untuk mendekatinya. Saya juga heran, tidak seperti biasanya ada empati dalam dadaku. Saya menyapa ringan dan mengajaknya berjabat tangan. “bapak sudah makan”?tanyaku agak sedikit tidak enak.”oh sudah dik, terima kasih?jawab bapak itu ramah. Sembari senyum saya minta ijin untuk makan dulu diwarung sebelah bapak tua itu istirahat. Karena kebetulan perut saya sudah menyanyi minta di isi. Setelah selesai makan, saya lihat bapak tua itu masih ada ditempat pertama saya istirahat. Pak, saya pergi dulu?kata saya sembari memberikan sedikit rizki padanya. Dengan ucapan terima kasih tulus, saya berlalu meninggalkannya. Perjalanan kerumah teman itu saya rasakan sungguh menyenangkan.
Kali ketiga ini aku dipertemukan lagi dengan bapak tua yang mengais rizki dari pejalan kaki. Saya lihat bapak itu tidak menengadahkan tangan seperti peminta-minta pada umumnya. Bapak itu hanya berjalan menyusuri pinggiran aspal, tapi ketika itulah banyak insan yang masih menaruh iba padanya. Malam itu saya kembali dekatin bapak tua. Kebetulan ada tempat duduk yang sedikit enak. Sehingga malam itu saya ngobrol panjang lebar. Ternyata bapak itu sebut saja Fulan, asli dari sunda, tepatnya sumedang kalau saya tidak salah. Penghasilan dari belas kasihan hamba Alloh terbilang cukup lumayan. Dalam sehari bisa mengantongi minimal tigapuluh ribu kalau lagi sepi. Kalau lagi rizkinya baik, bisa diatas limapuluh ribu dalam sehari. Ketika saya tanya, disimpan dimana hasil jerihnya?bapak itu bilang disimpan pada orang yang sudah ia perjaya dijakarta yang kebetulan sebagai penjual rokok dan minuman dipinggir jalan. Tidurnyapun seringnya didalam pasar. Bukan tidak jarang uang yang sempat ia simpan disakunya, paginya raib sudah diambil orang lain. Bapak Fulan pulang seminggu sekali atau kadang sebulan baru pulang kampung. Ternyata ia juga punya keluarga di Sumedang. Bapak Fulan ternyata punya dua anak dari istri sahnya. Satu perempuan dan satunya pria. Yang sungguh membuat saya terkejut, anak yang terlahir itu adalah buah cinta dari istri yang ke EMPAT. Tapi cerita bapak itu, yang dinikahi memang janda semua. Dan semuanya berahir dengan perceraian, kecuali yang bisa membuahkan anak ini. Ternyata saya masih bisa dapat istri yang sebenarnya”kata bapak itu bangga.
Dirumah cerita pak Fulan sungguh membuat hati dan jiwa ini malu. Saya sudah umur 26 tahun tapi belum menikah. Fisik komplit dan tidak cacat. Berpenghasilan sudah, kenapa aku takut menikah?. Sedang bapak itu yang cacat bawaan pede menikah sampai empat kali. Walau yang dinikahinya janda. Tapi bukan masalah jandanya, keberanian untuk kesitulah yang sungguh membuat hati ini salut. Kenapa saya belum menikah?cerita bapak itu menjadi dorongan untuk bisa mengahiri masa lajangku. Allohlah yang membagi rizki dan sebagai pengatur kehidupanku. Anak istri semua rizkinya sudah punya sendiri-sendiri. Dengan modal 4 juta, aku akhiri masa lajangku untuk mempersunting bidadari pilihanku. Terima kasih pak fulan, karena ceritamu membuat batin ini jadi lebih kuat menempuh jalan itu.
Apakah kalian masih ragu untuk menikah karena alasan kerja belum mapan?takut gak bisa kasih makan anak istri?atau alasan yang lainnya. Alloh yang memberi makan kita. Bapak fulan yang seperti itu aja empat kali, masa kita satu aja masih takut…..wallohua’lambissowab.
(kotarom 20-11-07)

6 Tanggapan to “OASE IMAN”

  1. hildalexander Says:

    jadi, sekarang sudah menikah? selamat ya

  2. nit_notpink Says:

    kadang kadang niat memang perlu di ikut sertakan ..
    jadi menikah itu letaknya bukan hanya di modal saja ..
    tapi kesiapan mental juga perlu ..
    karena hidup itu kan penuh perjuangan …
    harus selalu berjuang ..
    juga percaya penuh bahwa rejeki memang dari Allah semata …

  3. Kariyah Says:

    Pernikahan tak semudah mendengarkan cerita. Mengarungi bahtera rumah tangga itu labih sulit dari pada mengarungi samudra. Contohnya saya. sudah 14 thn berumah tangga masih juga belum sempurna. Ya boro boro sih sempurna, ya cukup sederhana lah. Bukan takut tak bisa kasih makan anak,melainkan hidup ini kan kebutuhannya bukan hanya materi. Betul tak?
    Nikah mungkin cukup 4 juta. anak pertama lahir butuh biaya. yang ke dua lahir tambah biaya yang selanjutnya lahir terus jawabnya apa? Memang riski iti dari AllahSWT tapi uang itu kan tak jatuh dari langit. Tanpa bekerja takkan ada yang gratis didunia.

  4. chool_lee Says:

    Lahir ke dunia adalh resiko. orang yang berhasil adalah orang yang berani menghadapi resiko….

    maju terus resiko……..eh… madureso……..
    setelah aku nggorek2 nag mburi pasar kebrek…..apabetul mas madureso ini yang telah menerima award dari google Earth ?
    Kalau betul ya syukurlah…..

    Buat kariah…..kapan lagi mampir ke Perth ? nanti tak buatkan mendoan dan sroto gombong yang udah buka cabang di Perth….
    Kalau mau main sekitar bulan Maret april jadi gak terlalu dingin…..
    Jangan bulan Agustus itu pas lagi adem- banget wong antarane 10sampai 5 derajat…….

  5. agus sty Says:

    setuju karo pendapate mba kariyah

  6. dìsk0n 75% Says:

    hidup jelas akn susah kalo udah MENGANGGAP,
    brpikiran dn brperasan NEGATIF.Brburuk sangka kpd ALLAH akn bnr2 mjd hdp ini buruk atau susah sbgmn yg disangkakan.
    mk keIKHLASan, keYAKINan atas RAHMAT-NYA bhw HIDUP ITU MUDAH dng pertolonganNYA mrpakan RAHASIA HIDUP SUKSES..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s