Langit itu terlihat begitu pekat. Mendung hitam begitu cepat menggulung. Angin kencang begitu bersemangat menghempas menyapu tingginya pohon bambu.Terlihat angin itu ingin menerbangkan bersama akar-akarnya. Tapi kelihatannya tidak berhasil. Sore ini aku harus pulang. Seminggu sekali aku pulang. Tempat kerjaku di Jakarta dan rumah kontrakan di Purwakarta. Kebetulan istri bekerja disana. Tadinya memang ada rasa malas seminggu sekali menempuh perjalan itu. Walau jarak tempuhnya tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu sekitar dua setengah jam perjalanan. Tapi mungkin karena sudah terbiasa, lama-lama asik dan bisa menikmati juga. Semua yang jelas demi cinta dan cita-cita untuk mendapatkan ridhoNya. Rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Aku harus pulang. Aku berjalan gontai membelah senja yang hampir sampai. Gerimis itu membuat aku takut, bakal kebasahan neh kalau begini, aku bergumam sendiri.

Kopaja 57 berhenti didepanku, pastinya setelah aku stop dulu. Alhamdulillah, tidak penuh seperti biasanya. Untuk menampung satu orang lagi sepertiku yang bertubuh kecil, muatlah. Byurrrr….baru kurang lebih lima menit kopaja membawaku, air dari langit tumpah ruah membanjiri jalan. Masih ada rasa syukur dihatiku, tidak kehujanan karena sudah naik mobil duluan. Jakarta baru di guyur hujan sederas ini sudah terlihat air tergenang dimana-mana. Kasihan orang yang punya rumah lebih rendah dari jalan raya. Belum macetnya, waduh. Sampai cililitan hujan malah terlihat semakin deras. Untung aku bawa payung. Payung kecil yang selalu ikut dalam tas ini begitu membantu. Istrikulah yang membelikannya. Persis didepan PGC cililitan aku turun. Aku siapkan payung. Wussss…payung yang aku pegang begitu kuat bergoyang. Angin dahsyat itu masih ada ternyata. Sebagian tubuhku basah. Walau dengan payung aku tidak mungkin melanjutkan langkahku. Aku berteduh di area PGC. Tentunya disitu juga sudah ada ratusan orang yang berteduh sepertiku. Hampir satu jam hujan belum menunjukan tanda-tanda akan berhenti.

Aku ambil hape disaku celana, ugh sudah hampir jam enam sore. Aku usap hape yang terlihat mengembun. Aku senyum simpul dalam hati. Hape ini sudah terlihat kumal dan lusuh. Tapi masih terlihat begitu percaya diri. Hape ini adalah yang selalu menemaniku, hape inilah yang pertama aku beli dan sampai kini. Sudah berapa tahun, aku lupa. Siemens tipe C55, bandel juga. Terngiang lagi dalam memoriku ketika beli hape ini. Aku beli dari salah satu teman di kerjaanku seharga Rp.650.000-,. Entah kenapa aku malas banget untuk mengganti dengan hape keluaran terbaru dan fasilitas yang disediakan macam-macam. Ada rasa nyaman bersamanya. Tidak ada rasa khawatir kalau hilang. Tidak membuat marah ke anak apabila dibantingnya. Ach..hape jelek ini…biar jelek fisiknya, tapi suaranya sama saja tuh. Bisa buat telfon sama SMS sudah cukup. Dan aku masih ingat ketika temanku sewot karena masih memakai hape itu. Udah ganti saja, hari gene hapi tidak ada kameranya..! emang kamu. Ya bukan aku gak bisa ganti, bisa. Tapi belum ada niat untuk menggantinya, sudah kadung jatuh cinta seh. Pernah seh aku bawa ke counter, eh ditawar cepe waktu itu, sudah lama seh, sekarang mungkin gocap. Ach daripada hanya laku cepe, mending dipakai saja sampai ancuuuuuuuuurrrrrrrrrrrr. Beli laginya lagian nambahanin banyak. Alhamdulillah sampai sekarang hape c55 masih setia. Ingin sekali aku mengecupnya, tapi apa kata dunia…eh kata orang-orang disekelilingku. Aku menganggap kalau sesuatu memang masih bermanfaat dan belum perlu untuk mencari yang lebih bagus, ya pertahankan saja. Jangan tergoda dengan penampilan. Orang tidak jadi rendah karena pakai hape keluaran bahela. Asalkan senyum masih terkembang, santun bahasanya masih menghiasinya, jiwa yang mana yang tidak akan menerimanya.

Sudah terlalu lama aku menunggu hujan berhenti. Belum reda juga. Dengan payung kecil ditanganku, aku terobos guyuran hujan yang masih deras untuk menuju angkutan kota yang akan membawaku ke Cawang dan selanjutnya naik sekali lagi bus yang menuju ke kota Purwakarta. Alhamdulillah, ada bangku kosong. Ada bahagia dihati ketika aku dapati satu bangku yang tersisa. Oh iya, ternyata hari kamis tanggal 1 Mei 2008 adalah hari libur. Maklum, jatah libur kantor hari Kamis, jadi tidak keingetan. Dengan laju pasti bus Kramatjati melesat cepat bagai kilat mengantar aku pulang. Aku berhenti ditengah-tengah gang. Kemana pak tua itu yach?batinku bertanya. Mataku mencari sosok yang biasa memberikan senyum kepadaku setiap aku lewat jalan ini. Aku tidak kenal pak tua itu, pak tua itu juga tidak kenal aku. Tapi setiap aku lewat dia akan menyapa dengan senyumnya. Padahal malam ini ada sesuatu dariku untuk pak tua itu. Aku diam sesaat. Masih teringat pertama kali aku ketemu pak tua itu. Waktu itu sepulang dari Jakarta, aku coba tahan langkahku. Aku berhenti sebentar. Aku ingin tahu tentang sosok renta yang selalu duduk dipinggir gang. Aku ingin tahu, sosok renta yang selalu menyunggingkan senyum ketika aku berpapasan denganya. Apa kabar pak, aku menyapanya sembari aku ulrukan tangan untuk menjabat tangannya. Agak terkejut aku lihat pak tua itu. Baik pak, jawabnya. Waduh aku dipanggil pak, batinku. Apa aku sudah tua yah..?awal itulah mengalir cerita darinya. Kenapa pak tua itu selalu ada disudut jalan. Menghabiskan sedikit malam bersama nyanyian alam. Ternyata pak tua itu terlahir katakanlah sendiri. Tidak ada saudara, anak ataupun istri. Bukan berarti tidak pernah menikah, sering. sudah tiga kali menikah, tapi setiap punya anak tidak ada yang bertahan hidup. Alloh selalu mempunyai rencana lain, yaitu mengambil amanah yang dititipkan pada pak tua dan istrinya. Ironisnya, istrinya minta diceraikan. Mungkin dengan cara itulah pak tua mengilangkan kejenuhannya. Tempat bernaungnya hanya dirumah kosong yang sudah tidak ditempati yang punya. Karena sempat penasaran, aku minta ijin untuk bisa berkunjung. Diantarlah aku ke tempat pak tua itu tinggal. Aku lihat bangunan rumah yang lumayan besar tapi sudah usang. Aku lihat diluarnya banyak plastik-plastik bekas berserakan. Ini tempat gudang plastik pak, kata pak tua itu ketika aku tanya kok banyak plastik berserakan. Ketika pintu rumah itu dibuka, aku tertegun. Pak tua itu berarti setiap malam tidur ditemani tumpukan bergunung-gunung plastik bekas yang membuat pengap. Di setiap sudut ruangan menumpuk plastik bekas. Hanya sekitar sepetak yang kosong, yaitu tempat buat melepas lelah pak tua. Tempat ini tidak salah kalau dibilang GUDANG barang bekas. Aku coba mengamati disekeliling ruangan itu. Disana aku melihat ada sajadah yang tergantung. Terlihat baru atau mungkin bersih. Maklum, malam itu ruangan hanya ditemani lampu boklam 5 watt. Ada bangga dalam hatiku, pak tua ini orang yang mengenal Alloh SWT. Bapak kalau shalat disini?tanyaku sambil menuju dipan tempat tidurnya. Iya pak, tapi seringnya shalat di mushola belakang rumah ini”jawab pak tua ramah.

Aku tunggu beberapa saat tidak muncul juga pak tua itu. Bingkisan ini harus segera sampai ke tangannya. Tanpa menunggu lama aku langsung saja menuju kerumahnya. Lama juga aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tidak ada jawaban. Maklum bapak itu sudah tua, pendengaranya sudah tidak peka lagi. Pelan-pelan aku lihat daun pintu bergerak. Ach, ada orangya ternyata. Begitu pintu terbuka, pak tua terlihat kaget, karena aku sudah ada didepan pintu. setelah aku tanya ternyata pak tua mau kedepan, seperti biasa menghibur diri. Lalu aku utarakan maksud kedatanganku. Tanpa basa-basi aku serahkan bingkisan yang sudah aku siapkan untuknya. Ucapan terima kasih berulang-ulang terucap. Tidak lebih dari sepuluh menit, aku minta ijin pulang. Baru sekitar lima langkah, aku mendengar gumaman pak tua”Alhamdulillah, bisa makan juga malam ini!” Hatiku kecut, ingin menangis. Tapi aku terus melangkah, melangkah meninggalkan kebahagiaan yang tidak berarti bagi yang kaya, daripada kebahagiaan pak tua yang mendapart rizkinya yang tidak seberapa. Ya Alloh, berilah kesempatan aku untuk kembali kerumah itu lagi…..

copyright@mei-2008

Satu Tanggapan to “intermezzo”

  1. Kariyah Says:

    Ya ampun kang ceritanya mantep…Siapapun dekat dengan Allah SWT doa2nya pasti cepat terjawab. AMIEN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s