HUKUM BERHUTANG ATAU MEMINJAM PDF Print E-mail
Written by Ust. Muhaerin
Monday, 09 January 2012 14:49
 

Berniat baik dan akan membayarnya

 

Berhutang  atau meminjam adalah sesuatu yang dibolehkan dalam ajaran islam, orang yang menghutang hendaknya berniat baik, bahwa barang yang ia pinjam tentu benar-benar akan digunakan untuk hal yang baik dan berniat akan mengembalikannya, janganlah menghutang pada orang lain kalau dalam hati sudah ada niat untuk hal yang tidak baik atau ada niat tidak akan mengembalikkannya, hal tersebut adalah sesuatu yang sangat dibenci dalam ajaran islam, bahkan Nabi SAW tidak mau mensholatkan jenazah yang masih punya hutang sebelum dibayar atau ada yang mau menanggung hutangnya tersebut, padahal mungkin saja orang yang meninggal tadi punya niat untuk bayar hutang tapi keburu meninggal, apalagi orang yang punya hutang tapi berniat tidak akan membayar tentu dia akan membawa dosa.

 

 

Bayarlah hutang itu dengan memberi kelebihan yang menggembirakan bagi yang meminjamkan

 

Kalau memang kita terpaksa harus menghutang kepada orang lain, maka bayarlah hutang tersebut dengan memberi kelebihan yang menggembirakan bagi orang yang memberi pinjaman kepada kita. Kesadaran untuk memberi kelebihan dalam masalah hutang, hal ini harus muncul dari diri orang yang menghutang, karena bagi orang yang memberi pinjaman dilarang meminta kelebihan kepada orang yang meminjam.

 

Rosullalah SAW bersabda :

 

اَلَا اِنَّ كُلِّ رِبًا مِنْ رِبَا الْجَهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ لَكُمْ رُئُوْسُ اَمْوَالِكُمْ لَاتَظْلِمُوْنَ وَلَاتُظْلَمُوْنَ اَلَا وَاِنَّ كُلَّ دَمٍ مِنْ دَمِ الْجَهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ (ابوا داود – عن سليمان ابن عمرو)

Ingatlah bahwa setiap riba dari riba Jahilyyah adalah tertolak dan bathal (haram) , bagi kamu adalah ru’usu amwalikum (pokok harta kamu), kamu tidak mendzolimi dan tidak di dzolimi, ingatlah setiap darah dari darah Jahiliyyah adalah tertolak…(HR : Abu Daud – dari Sulaiman bin Amr)

 

 

Perhatian bagi peminjam !

 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدُ اللهِ .رع. قَالَ : اَتَيْتُ النَّبِيَّ .ص. وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ قَالَ مِسْعَرٌ اَرَاهُ قَالَ ضُحَى فَقَالَ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ وكَانَ لِيْ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَقَضَانِيْ وَزَادَنِيْ  (متفق عليه)

Dari Jabir bin Abdullah ra. Berkata : saya datang pada Nabi SAW , beliau pada waktu itu ada di Masjid, berkata Mas’ar (nama rowi yang meriwayatkan hadits ini) : saya berpendapat bahwa Nabi sholat dhuha, maka Nabi bersabda : sholatlah kamu dua roka’at . (kata Jabir) : Nabi SAW punya hutang pada saya selanjutnya Nabi SAW membayar pada saya dan Nabi memberi tambahan pada saya (HR : Bukhori – Muslim)

 

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ .رع. اَنَّ رَجُلًا اَتَى النَّبِيَّ .ص. يَتَقَاضَاهُ بَعِيْرًا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ .ص. اَعْطُوْهُ فَقَالُوْا مَا نَجِدُ اِلَّا سِنَّا اَفْضَلُ مِنْ سِنِّهِ فَقَالَ الرَّجُلُ اَوْ فَيْتَنِيْ اَوْ فَاكَ اللهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ .ص. اَعْطُوْهُ فَاِنَّ خِيَارَ النَّاسِ اَحْسَنُهُمْ قَضَاءَ (البخاري)

Dari Abi Hurairoh ra. Sesungguhnya ada seseorang datang pada Nabi SAW menagih pada Nabi SAW karena miminjam unta ,maka Rosullalah SAW bersabda : berikanlah pada orang itu , para shohabat berkata : kami tidak menemukan kecuali yang lebih umurnya, orang itu berkata pada Nabi SAW : apakah anda akan membayar kepada saya ? semoga Allah memberikan pada anda untuk membayarkannya , selanjutnya Rosullalah SAW bersabda : bayarkanlah padanya maka sesungguhnya diantara manusia pilihan adalah yang paling baik ketika membayar hutang (HR: Bukhori)

 

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ .رع. عَنِ النَّبِيِّ.ص. قَالَ : مَنْ اَخَذَ اَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيْدُ اَدَاءَهَا اَدَّى اللهُ عَنْهُ ، وَمَنْ اَخَذَهَا يُرِيْدُ اِتْلَافَهَا اَتْلَفَهُ اللهُ تَعَالَى (البخاري)

Dari Abi Hurairoh ra., dari Nabi SAW bersabda : siapa saja yang meminjam harta orang lain dengan maksud akan mengembalikannya pastilah Allah kembalikan buat dia , dan siapa saja yang mengambilnya dengan maksud merusaknya(tidak mau mengembalikan) pastilah Allah rusakkan dia (HR : Bukhori)

 

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ .رع. قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ.ص. مَطْلُ الْغَنِيُّ ظُلْمٌ ،… (متفق عليه)

Dari Abi Hurairoh ra. Berkata : Bersabda Rosullalah SAW : penahan hutang padahal dia kaya (sudah mampu bayar) adalah kedzoliman,…(HR : Bukhori – Muslim)

 

Dalam sebuah hadits riwayat Al-Baihaqi dan Ibnu Majah dari shohabat Anas bin Malik dikisahkan, bahwa :

 

Pada suatu hari Rosullalah SAW kedatangan seorang laki-laki dari kalangan Anshor, ia berkata pada Nabi tentang persoalan beratnya beban menafkahi keluarga lantaran ia tidak memiliki keahlian seperto mayoritas shahabat pada umumnya yang berfropesi pedagang, sedangkan ia hanya tukang kuli panggul yang hanya mengandalkan kekuatan tenaga, setelah ia selesai bicara pada Nabi, Nabi SAW tidak meminta para shohabat mengumpulkan uang untuk menolong / meminjamkan pada orang tersebut, malah Beliau bertanya : Amma fi baiytika syai’un? (apa yang kamu punya dirumah ?) orang itu menjawab: ada, saya memiliki sehelai Hilsun (Tikar yang terbuat dari kulit) dan Qo’bun (Tempat menyimpan air yang digunakan untuk minum), lalu Nabi pun menyuruh supaya orang itu mengambil kedua barang tadi, kemudian Nabi melelangnya dihadapan para shohabat, tidak ada seorangpun dari shohabat yang mengangkat tangan lantaran barang bekas dilelang dihadapan orang kaya, tetapi setelah Nabi mengulang dua kali tawarannya, maka ada seorang shahabat yang menawar satu dirham dari kedua barang itu, Nabi terus melelang kedua barang tadi untuk mencari penawar yang lebih tinggi, setelah ada yang berani menawar dua dirham maka barang itupun diserahkan. Dan Nabi memerintahkan kepada orang itu supaya satu dirham dibelanjakan makanan dan satu dirham lagi di belikan kapak. Tidak lama kemudian orang itu membawa kapak sesuai pesanan perintah Nabi dan diserahkannya pada Nabi, selanjutnya Nabi meragakan cara memotong kayu bakar dengan menggunakan kapak tadi lalu menyusun dan mengikatnya dengan tali. Beginilah cara kamu mencari nafkah ! dan sekarang silahkan kamu pergi, carilah kayu bakar semaksimal mungkin dan setelah lima belas hari balik lagi kesini, pesan Nabi kepada orang Anshor itu.

Setelah lima belas hari orang itu datang lagi pada Nabi, ia melaporkan hasil kerja mencari kayu bakar, ternyata selama lima belas hari itu ia mendapat sepuluh Dirham, ia mengatakan :tiga dirham saya belikan makanan, dan tiga dirham dibelikan pakaian dan sisanya saya tabung untuk keperluan yang lain, mendengar kabar seperti itu Nabi sangat gembira dan beliaupun mengatakan :

 

هذّا خَيْرٌ لَكَ مِنْ اَنْ تَجِيْءَ وَالْمَسْأَلَةُ نَكْتَةٌ فِى وَجْهِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Pekerjaan ini lebih baik bagimu dari pada kamu kelak datang pada hari kiamat dengan noda hitam diwajahmu disebabkan kamu meminta-minta