Semangat lebaran 1432 Hijriah begitu kuat dirasakan. Seiring itu juga segenap Pemuda dan Pemudi Madureso, merasakan semangat untuk mensukseskan dan memfasilitasi area masjid Assasut-taqwa untuk dijadikan tempat shalat idul fitri bagi kalangan ikhwan dan akhwat. Selama masa jayanya, masjid assasut-taqwa ketika shalat idul fitri atau idul adha didominasi oleh ikhwan saja.
Pemuda sebagai garda terdepan untuk bisa menciptakan perubahan. Dengan bekerjasama malam itu, pemuda berkoordinasi dengan ketua PHBI bapak musholih rapat kecil diteras masjid. Intinya akhwat kita gelarkan tikar dll. Malam takbiranpun jadi lemburan akherat pemuda. Ada yang ambil terpalnya, setelah sampai, ternyata terpal sangat kotor sekali bekas menjemur padi. Malam itu secara bergantian, terpal dipel sampai kinclong. Sound system dadakan pemuda siapkan. Karena harus mengambil didaerah Guyangan wetan, tidak mungkin diangkut dengan sepeda. Akhirnya pakai mobil bak. Ahamdulillah, yang punya mobil tidak berkenan dikasih uang bensin. Ehm…luar biasa. Sekitar jam dua pagi beres-berespun selesai. Sedikit pemuda bisa bernafas lega, karena lebaran dimundurkan satu hari. Dan segenap masyarakat madureso mengikuti pemerintah, lebaran hari rabu 31 Agustus 2011.
Suasana lebaran pagi itu begitu sangat ramai. Tidak seperti tahun sebelumnya. Spanduk ucapan selamat idul fitri, yang dibuat oleh pemuda menambah warna tersendiri. Ada sekitar 50 balon gas juga standby,menunggu diterbangkan. Yang membuat bulu kudu merinding, kaum akhwat begitu sangat mendominasi shalat idul fitri pagi itu. Halaman masjid sampai jalan penuh. Tidak orang tua, anak-anak, sangat khidmat mengikuti shalat, khutbah dan sampai halal bihalal. Dan dilanjutkan silaturahim ketetanga-tetangga. Ya Alloh, pemuda-pemudi Madureso sangat bangga dan senang melihat pemandangan ini. Dan ini harus dipertahankan sampai akhir zaman.
Perjuangan Komunitas Madureso belum selesai. Malam kamis, tepatnya 31 Agustus 2011 malam, acara Silaturahim KPPM sudah menunggu. Agenda tidak bisa dimundurkan, walau lebaran mundur. Sore itu pemuda berjuang untuk mensetting area silaturahim. Ada yang sewa kursi, dekorasi panggung, ada yang makan mulu, dll. Alhamdulillah persiapan sore selesai.
Silaturahim KPPM dengan mengundang ustadzah Siti Fatimah rupanya menyedot perhatian masyarakat dan segenap tamu undangan pemuda-pemudi Madureso. Itu terbukti dengan penuhnya kursi yang panitia sediakan. Sekali lagi pemuda bekerja sangat keras untuk bisa mendapatkan kursi tambahan. Dengan sekitar 300 kursi yang ada, hadirin tidak tertampung. Sesuai dengan pantauan kami, ada yang duduk diteras balaidesa, ada yang dijalan, dan ada yang diwarung. Subhanalloh, ini memotivasi KPPM untuk lebih baik lagi menkonsep acara.
Acara diawali dengan pemutaran Film Dokumenter, dilanjutkan dengan pesta kembang api dan peluncuran balon plastik yang meliuk-liuk diterpa angin malam yang kurang bersahabat. Semoga balon tidak nibani umah dan kedelain sawah. Maklum, musim kemerau, takutnya terjadi kebakaran. Sesai selanjutnya acara inti, yakni MC oleh Mas Janur, pembukaan acara oleh bapak Musolih, Sambutan Kepala Desa Madureso oleh bapak Mundirian, sambutan KPPM oleh Tukiran. Ketua karang taruna tidak hadir, sehingga agenda acara dilewatkan dan langsung di isi oleh ustadzah Siti Fatimah. Sedangkan untuk do’a oleh Ustadz Khudori. Dan perlu KPPM informasikan juga, malam itu KPPM menggalang dana dengan mengedarkan kotak amal. Alhamdulillah dana bisa terkumpul sekitar satu juta lebih. Dan dari dana yang ada, kami sisihkan untuk membantu pengobatan sakit gagal ginjalnya ibu Suprapti, istrinya pak Rohmat ( towet). Segenap KPPM mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemuda-Pemudi dan masyarakat madureso yang telah menysisihkan sebagian harta bendanya untuk kepentingan Umat. Semoga Alloh melipat gandakan pahala,amin. Dan terima kasih juga atas dukungan masyarakat Madureso, sehingga acara bisa berjalan dengan sangat luar biasa, spektakuler dan bombastis. Allohuakbar ( tar )